Once upon a time, ada seorang perempuan bernama Derra yang sedang berusaha menyelesaikan kuliahnya. Cukup lama, sekitar 6,5 tahun baru dia bisa masuk ke dunia skripsi.

Dalam perjalanannya mencari data, dia bertemu banyak orang baru. Namun topik penelitiannya membawa dia berkenalan dengan orang-orang tua di pedalaman yang bermasalah dengan “hukum positif”, yaitu hukum yang berlaku.

Salah satunya adalah Ibu Sunarsih. Seorang janda berumur 60-an di Garut yang oleh pengadilan diputuskan dilarang tinggal bersama dan bertemu anak tunggalnya karena kondisi dia yang ada di bawah pengampuan.

Sudah hampir 7 tahun dia tidak bertemu dengan darah dagingnya sendiri. Bernama Fajar, anak berumur 18 tahun ini tinggal dan dirawat oleh sang ayah di Palembang. Berbeda dengan teman sebayanya di sekolah, Fajar belum pernah merasakan apa yang dianggap normal, salah satunya yaitu pacaran. Bagaimana bisa punya pacar, kalau marah sedikit saja barang bisa melayang?

Kembali ke Garut

Ibu Sunarsih cerita banyak tentang pengalaman pahit itu kepada Derra. Dia merasa bahwa Hakim tidak adil. Singkat cerita, Derra mencoba menjelaskan bahwa keadilan memang tidak akan pernah bisa merata ke semua manusia karena definisi “adil” adalah berbeda-beda tergantung sudut pandang individunya.

Setelah hampir satu minggu dijelaskan secara perlahan, akhirnya Ibu Sunarsih mulai paham dan menjadi lebih terbuka untuk bercerita. Di penghujung waktu tinggal Derra di Garut, Ibu Sunarsih mulai menjelaskan apa saja cara yang pernah dilakukan demi bertemu Fajar. Mulai dari yang halal menurut agamanya, sampai yang ilegal menurut hukum negara.

Salah satunya adalah dengan mencoba mencuri perhatian media. Dia dibantu dengan beberapa warga melakukan aksi mogok makan. Aksi yang berjalan beberapa hari ini mengakibatkan fisik dia yang makin jauh dari kata baik.

Benar saja, media nasional berlomba-lomba mencari cerita untuk dijadikan berita. Tapi apa daya, ada isu yang jauh lebih besar yang dapat menarik pembaca. Yaitu Justin Bieber dan Selena Gomez kembali berpacaran. Baik, abaikan.

Derra mulai berpikir

Derra mulai berfikir tentang mengapa Selena mau kembali kepada Justin. Namun seorang warga sekitar mencoba membuat Derra untuk kembali fokus ke isu Ibu Sunarsih. Menggunakan akal sekaligus merasa lewat hatinya, pikirannya mulai bergerak lebih cepat dari sebelumnya karena tidak sabar ingin segera sampai ke tahap jawaban atau kesimpulan.

Derra mulai mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada di balik isu “kecil” ini secara cepat. Namun nihil. Dia tidak menemukan jawaban dan lahirlah sebuah kesimpulan “kampret!”

Akhirnya dia pulang ke Bandung membawa cerita Ibu Sunarsih. Tentunya sambil bersedih. Malam itu juga, di sebuah grup chat Line bernama “Partai Ijo”, Derra bercerita panjang lebar. Dan siapa sangka kalau dia malah menangis?

Kondisi Derra yang masih bersedih, lelah, dan pressure dari dunia skripsinya, justru makin menggila saat membaca respon dari teman-temannya yang ternyata tidak 100% serius menanggapi isu ini. Ada yang menyalahkan pemerintah, menganggap Derra berlebihan, terlalu bawa perasaan, tapi tetap ada juga beberapa yang mengajak untuk melakukan perubahan. Walaupun berujung wacana.

Dia marah

Karena dia percaya dengan “you’re not a human until you do something to those who cannot, ever, payback”, maka dia bertekad untuk kembali ke Garut dan berbuat sesuatu agar dapat mempertemukan Ibu Sunarsih dan Fajar. Apapun caranya, resikonya dan cost-nya.

Beberapa minggu setelah tekad yang bulat, Derra berangkat ke Garut dengan rencana matang dan bantuan dua orang teman SMA-nya, Angga dan Derry.

Mereka menjemput Ibu Sunarsih dini hari tanpa sepengetahuan warga dan segera pergi ke bandara di Bandung. Mereka terbang ke Bandar Lampung tanpa izin aparat penegak hukum di Garut berkat bantuan ayahnya Derry. Hukum dilanggar, demi memenuhi rasa rasa keadilan versi Ibu Sunarsih saat itu, yaitu bertemu Fajar.

Tiba di Kota Lampung, ternyata sudah ada Fajar yang dibawa oleh sudaranya Angga dari sekolahnya di perbatasan Palembang-Bandar Lampung secara diam-diam. Ibu Sunarsih akhirnya bertemu Fajar walapun hanya sementara.

Selesai bertugas, Derra yang merasa senang dan puas akhirnya ingin memulai curhatannya. Awalnya, Derra yang mendapat banyak pelajaran ini ingin menceritakan pengalamannya secara objektif. Tapi, masih ingat waktu Derra bilang “kampret!”? Menangis kecewa karena ngomong-doang-nya para teman di grup chat? Perasaan tersebut-lah yang justru mendasari kesimpulannya. Pendapat Derra, lahir dari emosinya.

Waktunya curhat

Dia malah lupa memamerkan kebaikan yang dia, Angga dan Derry lakukan di social media. Dia malah marah-marah tentang banyaknya orang yang hanya bisa bicara, komentar, kritik untuk menjatuhkan, mengucilkan sebuah usaha, tanpa mencoba melakukan aksi nyata.

Di timeline, banyak yang tersinggung dengan curhatannya bahkan malah menjauhi Derra yang sudah bersusah payah berbuat nyata mempertemukan seorang ibu dan anak.

Hingga akhirnya, Derra teringat ucapan ayahnya yang merupakan seorang guru besar sekaligus dosen di sebuah seminar: “Semua orang, punya tempat masing-masing”.

Dan kemudian ibunya berkata:

“Sadar nggak, Der, mereka yang menurutmu hanya bicara itu ternyata yang bikin kamu jadi berbuat nyata. Mungkin emang tugas mereka sampai di situ. Tanpa mereka, mungkin bukan kamu yang membawa kebahagiaan untuk Ibu Sunarsih. Itu tugas kalian. Itu porsi kalian. Seenggaknya, untuk momen kemarin.”

Derra mulai membuka album foto lama ayahnya, dan langsung menangis saat itu juga.

Let's share and let others aware:
  • 1
    Share
No more articles