ymha50lZomM

Buat yang rajin makan (atau minum ya?) Puyo Desserts, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Eugenie Patricia, salah satu Co-Founder bisnis F&B yang bermarkas di BSD ini.

Dulu, Eugenie pernah terdaftar sebagai mahasiswa Interior Design di Australia. Dan Puyo Desserts lahir justru disaat dia baru akan memulai hidup baru sebagai mahasiswa bisnis di Prasetya Mulya, tepatnya tahun 2013 dimana entrepreneur dan bisnis dessert masih diragukan. Eugenie, mendirikan Puyo Desserts bersama abangnya, Adrian Agus.

Di awal perjalanan, Eugenie mendapat pertentangan dari beberapa orang yang menganggap dia tidak fokus kuliah. Tapi dia memang mengakui kalau di awal, time management untuk membagi waktu kuliah dan bisnis adalah salah satu isu utamanya secara personal.

Eugenie dan Adrian, memulai Puyo Desserts tidak dengan tim yang besar. Bahkan, orang rumah-lah yang menjadi andalan. Mulai dari orang tua, hingga saudara-saudara yang masih kecil-pun ikut turun tangan.

Puyo Desserts pernah menjalankan program digital campaign menggunakan aplikasi mobile. Dari food & beverage ke mobile app, merupakan suatu hubungan yang masih jarang terjadi. Puyo Desserts menerapkan strategi point untuk diredeem dengan produk mereka.

“Instead of pudding, pudding, pudding, Puyo, Puyo, dan Puyo (hard sell), kenapa kita gak remind orang dari cara mereka main game (soft sell).”

Program ini adalah hasil kerjasama dengan salah satu startup it di BSD. Tapi strategi ini sudah tidak berjalan walaupun mobile game-nya masih bisa didownload dan dimainkan.

Selain itu, Puyo Desserts juga sempat beberapa kali menjalankan social campaign. Berangkat dari mindset bahwa mereka harus give back to community & environment, campaign terakhir yang baru saja selesai dijalankan adalah Puyo & Vidi Aldiano Peduli Anak Indonesia. Campaign donasi dana untuk membangun satu perpustakaan di Flores ini bekerja sama dengan Taman Bacaan Pelangi, yang sudah berhasil mendirikan lebih dari 50 taman bacaan di Indonesia Timur.

Ditanya tentang back up plan kalau sampai Puyo Desserts harus selesai, perempuan berselera seni dan desain ini memilih untuk kembali ke dunia lamanya yang sempat dia tinggalkan, Interior Design, atau bekerja di creative agency.

Di interview kali ini, Eugenie juga cerita tentang support system yang baik menurut sudut pandangnya. Dia juga cerita tentang project-project lain yang dijalankan seperti Melu Culinary Tour, Nash Lash Extension, dan Youth of Indonesia.

Let's share and let others aware:
No more articles