Orang yang sekarang lebih dikenal dengan Indoestri-nya ini sharing tentang Self-Made lebih dalam dari biasanya. Dia juga mengkritik orang yang menilai “design” hanya dari desainnya saja. Bahkan, orang yang berada di belakang Accupunto, Brightspot Market, dan The Goods Dept ini menyayangkan kalau kultur Indonesia kalah.

Gimana kabar Indoestri?

Indoestri baik-baik saja. Cuman ya gw sebagai Founder, Owner, sekaligus semacam Operator juga, kadang masih merasa kayak nervous gitulah. Melihat perkembangannya walaupun sejauh ini udah sangat baik, tapi kan tentunya akan selalu ada hal-hal yang harus dan dapat diperbaiki. Intinya gak pernah puas sih. Bakal terus dikembangin.

Kita sekarang sedang mencoba satu program baru dan itu datangnya dari ketidakpuasan terhadap result sebelumnya. Dalam arti bukan maksudnya kita lagi santai-santai atas yang udah kita dapat. Actually, we’re very conscious of the fact kalau misalnya there’s something wrong (still) yang harus terus dievaluasi.

Cerita dikit tentang Self-Made?

Self-Made, mungkin jujur di awal tuh it’s a branding process. Tentunya dilandasi keyakinan. Tapi setelah setahun Indoestri jalan dengan Self-Made, keyakinannya justru makin kuat. Keyakinan bahwa Self-Made diperlukan dan perlu untuk take it seriously. Sudah banyak proof of concept-nya. Nah inilah yang membuat gw terutama kayak “Wow, i wasn’t even bullshitting myself”. Ternyata ada impact-nya. Dan jadi lebih meaningful. I was quite surprise myself too.

Gw sama kagetnya dengan orang lain. Whatever buat orang yang liat itu cuma “oh it’s a cool t-shirt”. Tapi yang penting, dia more or less sudah sedikit tersentuh. Tapi banyak orang yang tersentuh di different level. Nah termasuk gw sendiri.

Nilai dari Self-Made sudah ada belum sejak awal ketika masih jadi campaign?

Sudah cuma masih sangat basic. Jadi kayak, it was a theory di kepala gw. Terus kesini sambil jalan Indoestri, akhirnya gw juga punya data pembuktiannya nih. And i can say, data penelitian setaun ini, membentuk stand point-nya Self-Made. Bahkan sekarang jadi movement. Filosofi. Malah itu jauh lebih penting.

Apa yang sebenernya coba disampein?

Self-Made is a belief. Jelas mulainya dari gw. Teori gw. I believe in something. Then i believe this will be mean something. Sekarang udah jadi, ya makin percaya. Yang lain mulai percaya juga. Self-Made ini is a belief in process. Itu untuk hubungannya dengan indoestri.

Kalau dengan enterpreneurship, edukasi, itu lain lagi. Tapi Self-Made ini sangat fundamental. Bisa kemana aja. Dan keyword-nya adalah courage. Dalam mengambil tindakan, menggagas ide, orisinil, berbeda. Disini, kita bukan bermaksut gimana-gimana ya, tapi courage leads confidence to action. Lo harus percaya, jadi berani, jadi pede, do it. Itu tuh serangkain. Proses itu rangkain dari beberapa dasar. Mulai dari pemikiran sampe ke action.

Kalau menurut Om Leo, kenapa tiap orang harus punya dasar?

There’s no end if there’s no beginning. Kebanyakan orang kalau ngomongin sesuatu itu kan selalu end result-nya doang. “Gw mau negara ini maju”, “gw mau Jakarta gak macet”, blablabla. Tapi mulainya dari mana? Gak bisa kita ngerjain sesuatu langsung dari tengah jalan atau malah pengen hasilnya doang. Harus dari awal dong. Itu yang terjadi di negara ini.

Padahal kita punya Pancasila dan nilai lain. Tapi makin kesini, kayak udah ilang aja. There’s no fundamental yang baik. Dulu kita pasti mual ngafalin Pancasila pas sekolah. But now i get it, now i know the need of Pancasila. Semboyan. Dasar. Tapi ya jangan latah doang. You have to understand and live it. Mulainya dari mana? Ya dari awal. Dari personal masing-masing. Dan masing-masing tersebut, punya subjektivitas dan objektivitas masing-masing juga.

Tapi kalau objektivitasnya diseragamin dikit,  geraknya jadi makin bareng, powernya makin kuat. Gw ngomong konteksnya Indonesia tanpa bermaksud klise nih ya. Mau gw orang mana pun, kalau gw mau berbuat sesuatu, it’s start from the belief that can make a change.

Di Indonesia, middle class-nya kan bakal besar nih ya. Nah yang gerakin tuh siapa? Kalau negara maju kan middle class-nya punya kesadaran luar biasa untuk the whole country. Bahkan this middle class will take care of the lower. Kalau middle-nya lemah? Ya ini negara ini sekarang. Gak semua tapi masih banyak. Middle class ini tuh harus di-empower. Biar mereka bisa jalan sendiri. Bahkan take care the lower. That’s what “Self-Made” is. Believe, follow the process, make a change.

Berarti Om Leo mau coba coba kontribusi buat Indonesia?

Hahaha gak segitunya juga sebenernya tapi yes i want to be a part of it.

Indoestri pernah ngalamin semacam kegagalan gak?

Mmm dulu tentunya gw punya set of ideals nih untuk Indoestri. It’s like, setaun lagi nanti jadi gini, gitu, blabla. I will achieve this and that. Visi masih sama, misi berubah dikit, goals berubah banyak. Di Indoestri itu tadinya kita percaya bahwa kesadaran timbul dari diri sendiri. Tp ternyata gak segampang itu man. Tadinya gw percaya kalau “yaudah kalau lo udah dapet ilmunya, ya lo jalan aja sendiri”. It works for some people in some level.

Tapi sekarang kita ngomong general. Kita harus punya satu common practice. Dalam arti begini; kita kan alternatif nih ya. Alternatif itu kan ya berarti alternatif. Karena itu pilihan, jadi less-powerful. Bukan prioritas. Terus gw melihat ke other educational institution. Gw belajar dengan orang-orangnya. Dan hasilnya adalah, Indoestri perlu punya keseragaman itu. Istilahnya, gak bisa cuma “yaudah terserah” setelah belajar. Tetep harus dibimbing, mentoring, tuntun, dll.

Tadinya i didn’t believe in that kayak “lo sadar gak sadar ya udah”. So we shifting the direction. Sekarang mau gw guide sedikit. Tapi tetep gak di guide seperti sekolah. Sekarang kita punya Indoestri Long Haul. Pertanyaannya adalah, are you in it for the long haul? The staff, orang sekitar, bahkan partner gw masih pada percaya gak? Karena kalo nggak kan ya berarti gak sejalan. Kan pasti bakal muncul banyak pertanyaan kayak “benefitnya apa”, “ah kecil duitnya” atau “am i wasting my time for being here” or anything like that.

All i can say is all of that is true but not true. Karna banyak banget opportunity-nya dan sustainable. Kembali lagi, at the end of the six weeks, mudah-mudahan dia bisa jalan. Daripada yang sebelumnya, ngambil kelas beda-beda, gak konsisten, minggu ini ikut, tiga minggu lagi baru ikut, terlalu misah-misah dan akhirnya gak terarah

Karena udah setahun tapi orang-orang yang pernah belajar di Indoestri kok gak muncul-muncul nih hasilnya. Gw gak mau ini cuma jadi tempat belajar keren-kerenan doang.

Geser dikit, cerita tentang dulu kuliah?

Awalnya Graphic Design dua tahun, dapet diploma, kerja tiga bukan terus dipecat disana di Amerika. Ampe akhirnya gw masuk Product Design di Art Center College of Design. Itu my ultimate moment of education. Gw paling ngerasain “wah gw belajar”. Kalau sebelumnya tuh main, nyontek, dll tapi ya tetep belajar sih haha.

My experience of my education ya biasa-biasa aja. Tapi setelah punya anak, ngealiat sekarang, mempertanyakan masa yang akan datang, akhirnya jadi sadar betapa pentingmya edukasi.

Accupunto gimana?

It’s about ten years ago dan gw udah bosen sih sebenrnya cerita ini haha. It’s my first project in my career. Kalau gw gak ngejalanin Accupunto, gw gabakal disini. Dan gw gak mau stuck disitu. Gw gak mau dipanggil Mr. Accupunto. Tapi tetep, itu adalah proses yang bawa gw kesini sekarang.

Kalau Brightspot Market dan The Goods Dept?

I believe everything happens for a reason. Ketika kesempatan itu knocking, pilihan kita lah mau ambil atau ngga. Itu yang terjadi ketika gw ketemu partner waktu itu. Yaaa ada lah unsur timing-nya. Tapi pada saat opportunity itu muncul, gw pengen terlibat, dan gw siap, gw melihat peluang kedepannya, and i believe in it, langsung kyk “gw mau partner aja deh”. Ketemu mereka tuh di event Nike. Gw nge-design, ada yang EO, dll. Casual gitu aja. Kalau waktu itu pemikiran gw gak sesiap itu atau ngeliatnya cuma kayak misal “ah itu seru-seruan doang itu paling”, ya mungkin gak gw ambil atau mungkin gw cuma support doang.

Selama ini Om Leo pasti pernah ada naik turunnya kan ya. Apa yang bikin tetep gerak pas lagi jatoh?

I would be lying kalau gw bilang gw gak pernah stress. Actually gw justru pernah stres berat. But i came out stronger dan itu karena ada purpose, reasoning, dasar. Hope.

Project Think Tank itu apa?

Itu project selingan sih jatohnya. Kalau kejadian ya bagus kalau nggak ya udah. Soalnya ada prioritas lain.

Buat orang yang interest di design, tapi background-nya bukan design, apa yang harus dilakuin?

Kenya Hara, Art Director-nya Muji bilang kalau “Design is a wisdom”. A purpose to create balance. In a growing economy, purpose-nya adalah untuk create ‘new’ balance. Balance yang sebelumnya gak stabil, harus di re-new. Dalam negara yang udah balance, desain harus mempertanyakan lagi. Apalagi nih. Gitu seterusnya.

Jadi, design itu jangan lihat dari gaya, estetika, atau malah kerennya doang “wah hipster nih” hahaha. Liat dong di baliknya tuh apa? Fungsinya apa? Jadi pertanyaannya tuh, kreatif itu untuk apa sih? Jawab dulu deh tuh. Biar keren? Jadi Designer top? Padahal are you really want to solve a problem?

Waktu Om Leo mulai melihat sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas, apa yang dirasain?

Intinya, untuk pemikiran yang original, pioneer, higher purpose, whatever, biasanya tuh lonely. Sama aja kayak Visioner. Itu pasti orang liatnya kayak orang gila. Bedanya, some made it dan beberapa jadi gila beneran. Dan gw gak mau jadi kayak gitu jadi gw punya unsur realistisnya juga. Tapi sebenernya ya gak segitunya sih. I’m not credit my self that big. Karena emang gak jauh-jauh amat kok gw kalau mikir. It’s not that brilliant. Cuma karena emang gak ada yang mikirin so i have to do it. That simple.

Kalau disambungin ke kemajuan teknologi jaman sekarang, as an individual, kayaknya hidup tuh lebih baik dulu deh. Gak perlu pencitraan atau apalah. Simpel-simple aja. Gak perlu mikir yang gak perlu dipikirin. Not for the sake of nostalgia, tapi ‘humanity’ tuh jaman sekarang dimana sih? Hahaha. Kenapa Generasi Y seems to have confidence but confuse mungkin karena itu. Gak simple.

Maksudnya?

Today’s world is not simple. Lagi-lagi not for the sake of nostalgia tapi untuk self improvement nih ya; ini sekarang teknologi udah maju, nah manusianya juga ikut maju dong. Jangan konsumsi doang bisanya. Teknologi baru dikonsumsi, barang baru dikonsumsi, ntar manusia juga dikonsumsi.

Makan temen, ga pake etika, dll. That’s what happens today isn’t? Jadi perlu ditanya lagi, apa iya kita perlu maju kesana seperti mereka? Seriously, i think maybe not. Ntar kita jadi sama loh kayak negara lain. Terus culture kita yang melimpah ini ilang. Technology is just as a tool untuk membantu pekerjaan. Fundamennya yang paling penting.

Kenapa gak milih untuk stay di Amerika?

If i can contribute, it’s so much better than just working. Lagian ya why not? Everybody wants to be part of something. Gw orang indonesia dan gw musti baliklah ke indonesia. If you’re an enterpreneur, don’t just count but calculate. Jangan cuma ngitung tapi memperhitungkan. More observe, mempertanyakan. Tapi jangan jadi nyebelin ya and i hope gw gak nyebelin hahaha.

Let's share and let others aware:
No more articles