Key takeaways: Riset dan tidak riset keduanya punya plus dan minus. Tapi dalam hal awal-awal usaha, kadang memulai tanpa riset adalah sesuatu yang dibutuhkan. So let’s forget about conducting a research or not. Research is a must. But let’s think more on when to research first and when to research later.

Pastinya hampir semua keputusan harus didasari dengan riset. Kenapa? Karena riset akan membawa kita ke hasil atau objektif yang dituju. As simple as jika-maka, alias sebab akibat.

Kita coba talar menggunakan contoh bisnis

Jika produknya adalah laptop Windows, maka hot market-nya adalah yang membutuhkan laptop Windows. Pasti kita tidak bakal bermain-main di kolam Apple (walaupun mungkin saja). Riset sederhana yang mungkin dilakukan untuk mencapai keputusan “tidak bakal bermain-main di kolam Apple” tadi salah satunya adalah dengan mencari tau berapa orang pengguna Apple di lokasi A dalam rentang umur X sampai Y, fitur utama apa yang membuat mereka tidak bisa lepas dari Apple, dan lain sebagainya.

Riset memberikan kita informasi/ data yang kita butuhkan. Which is good. Karena sekali lagi, data bakal membawa kita ke objektif yang mau dicapai. Tapi, riset tidak gampang, tidak cepat, dan bukan cuman sekedar menarik data.

Dan alasan tersebut menjadi barrier banyak orang saat mau melakukan riset. Akhirnya, jadi menunda-nunda kegiatan yang mau dimulai. Salah satunya adalah bisnis. Dengan kepercayaan “riset akan membawa kita ke hasil atau objektif yang dituju”, banyak orang lupa kalau ada kepercayaan yang lainnya. Seperti misalnya “Mulai dulu, berkembang kemudian” a.k.a. di awal-awal jangan bergantung kepada riset. Setidaknya, di tahap baru mau memulai bisnis. Riset-lah di perjalanan.

Karena salah satu faktor dari bisnis adalah momentum atau timing yang tepat. Momentum yang terjadi dalam 6 bulan sudah pasti akan terlewat jika riset berlangsung selama 7 bulan, kan?

Bukan Cuma Bisnis

Prinsip “data-based decision” tidak cuma berlaku di dunia pekerjaan. Bahkan sebetulnya, ini hanyalah prinsip sederhana dalam kehidupan. Istilahnya, induksi.

Dalam menalar, ada dua poin utama yaitu deduksi dan induksi. Poin kedua ini secara simpel bisa diartikan sebagai “kesimpulan berasal dari pengalaman”. Sederhananya dapat digambarkan lewat ilustrasi berikut:

Derry cuma pernah melihat kuda 4x selama hidupnya.
Di umur ke-5, Derry melihat dua kuda berwarna hitam.
Di umur ke-6, Derry melihat tiga kuda berwarna hitam lagi.
Di umur ke-10, Derry melihat dua kuda berwarna hitam lagi.
Di umur ke-12, lagi-lagi Derry melihat kuda berwarna hitam.
Setelah yang terakhir, Derry berkesimpulan bahwa kuda adalah berwarna hitam.

Kesimpulan Derry berasal dari pengalamannya. Cara berfikirnya adalah induksi. Salah? Tidak. Benar? Tidak. Valid? Iya. Tapi kesimpulan tadi menjadi tidak valid waktu di umur ke-15 Derry melihat pacuan yang diisi oleh kuda-kuda berwarna cokelat, hitam, dan putih. Learning terbarunya adalah “kuda tidak cuma hitam tapi ada yang cokelat dan putih.”

Tapi…

Kenapa kesimpulan Derry tidak kuat? Kenapa kesimpulan Derry sebelumnya gampang sekali dipatahkan cuma dengan bukti baru bahwa “kuda tidak cuma hitam”? Simple, ini kelemahan induksi: karena kesimpulan berasal dari pengalaman. Kesimpulan Derry, cuma berasal apa yang dia lihat. Dia alami.

Begitu juga dengan riset bisnis, riset berfikir, riset untuk decision making, etc. Dengan mengambil sample data melalui survey tidak berarti output-nya adalah keberhasilan. Karena dengan mengambil “data dari 100 orang”, berarti hanya melahirkan kesimpulan berdasarkan “data dari 100 orang” saja. Misalnya, 100 orang menjawab “butuh makan”. Dengan menjual Nachos, belum tentu 100 orang tadi bakal beli. Karena ada data lain yang tidak “dipertanyakan”.

Dan karena kebanyakan riset memang berlangsung lama, riset justru bisa jadi salah satu yang memadamkan semangat untuk memulai usaha. Alhasil, ide brilian jadi sama sekali tidak dieksekusi karena momentumnya sudah basi.

Jadi, riset dan tidak riset keduanya punya plus dan minus. Tapi dalam hal awal-awal usaha, kadang  memulai tanpa riset adalah sesuatu yang dibutuhkan. So let’s forget about conducting a research or not. Research is a must. But let’s think more on when to research first and when to research later.

Let's share and let others aware:
  • 4
    Shares
No more articles