Kali ini ada sebuah cerita fiktif namun diangkat dari cerita nyata yang terjadi di Kota Jakarta. Dalam sebuah pertemuan santai, suatu percakapan tentang quarter life crisis yang banyak menghinggapi anak muda dalam range umur 23-28. Masing-masing bernama Derry dan Ardo.

Derry adalah seorang karyawan di salah satu Jakarta-based tech startup, sedangkan Ardo merupakan pebisnis yang bergerak di bidang game development. Mereka sudah menjadi teman sejak masa SMA, di Jakarta.

Di satu bagian obrolan, Ardo mengatakan bahwa dia membutuhkan mentor yang bisa memberikan mentorship (pastinya) hingga obrolan akhirnya mengarah kepada “saran”.

 photo d-artderryardo-saran_zpsiyrcmitq.jpg

Yes, saran. Saran yang biasanya diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Terutama waktu sedang kebingungan. Dan salah satu bentuk output dari mentorship pun sebetulnya adalah saran, masukan, based on pengalaman sang mentor.

Objek utama obrolan akhirnya bukan lagi mentorship melainkan sebuah saran. Baik dalam situasi mentoring, curhat dengan sahabat, dan seterusnya. Biasanya, saran seringkali dikutip menjadi kata mutiara yang diharap mampu memotivasi orang lain.

Yes, kutipan a.k.a. quotes.

 photo d-artderryardo-diskusi_zpsdk3l8ag9.jpg

Derry dan Ardo terus berdiskusi dan saling lempar opini hingga akhirnya mereka berhenti di satu kesimpulan bahwa tidak selamanya quotes bisa diaplikasikan.

Maksudnya?

Begini. Derry mencontohkan saat dirinya melihat sebuah postingan quotes di Instagram yang bertuliskan “If You Want It, You Can Do It”. Dia secara otomatis nge-like konten tersebut. Temannya, Mira, melihat konten yang di-like oleh Derry di notification timeline-nya.

Kamu pasti sering, kan, membuka foto yang di-like oleh temanmu? Ya, seperti itu lah kejadiannya.

 photo d-artderryardo-timelinesocmed_zpslpi4gimi.jpg

Mira adalah seorang pengusaha kuliner yang sudah dua tahun menjalankan bisnis tersebut dan ingin mengembangkan menjadi jauh lebih maju. Dia, saat itu, dalam keadaan penuh semangat, percaya diri dan penuh inspirasi. Dia sering mengikuti acara workshop, seminar, kursus, dan kelas-kelas di luar sana.

 photo d-artderryardo-yakin_zpswjc8ti91.jpg

Melihat quotes yang di-like Derry, Mira dengan sontak langsung tersentuh emosinya dan dalam hati berkata “Wah gua banget. I have to keep going. I can do this. Yes, I can!”By the way, kalimat yes I can barusan didapat oleh Mira saat dia les bimbel di Daniel, Kota Bandung waktu menjelang UN-.

Setiap hari, Mira terus bekerja keras demi bisnisnya. Dan sekali dua kali, dia teringat dengan info, saran, pendapat, ilmu, bahkan quotes yang pernah dia dapatkan. Salah satunya adalah kalimat “If You Want It, You Can Do It”.

Ternyata quotes ini hebat. Bisa menjadi bahan bakar untuk Mira dalam terus bekerja keras mengejar yang dia idam-idamkan.

 photo d-artderryardo-cantsleep_zpshvukxp8v.jpg

Di sisi lain, Derry rupanya kepikiran dengan quotes tersebut. Pertanyan datang dan pergi hampir di setiap malam sebelum tidur.

“Siapa yang ngomong ya? Kalimat sebelum dan sesudahnya apa ya? Orang ini kondisinya seperti apa ya waktu ngomong itu? Kenapa dia ngomong kayak gitu ya?”

Akhirnya Derry mulai mencari tau jawaban dari pertanyaannya. Dan akhirnya pula, dia mendapatkan jawaban dari website-website resmi perpustakaan.

Tokoh yang mengucapkan quotes tadi adalah Everydene Oneda, seorang kelahiran Texas berdarah Amerika-Jepang yang lahir di tahun 1975 bulan Januari.

Lalu, jawaban dari pertanyaan berikutnya adalah,

“If you want it, then you can do it. But please remember it won’t works to everyone who read it.”

Ternyata benar ada kalimat lain sesudah quotes tersebut.

BOOM. Derry kaget. Mau tidak mau, dia harus mencari informasi lain tentang hal ini. Seperti apa kondisi Everydene saat berucap demikian? Pertanyaan ini pun terjawab.

 photo d-artderryardo-seminar_zpshpvgtvyp.jpg

Pria yang lahir dengan satu tangan (kanan) dan dibesarkan oleh a single dad yang bergelimang harta ini rupanya baru saja sukses menjual produknya yang ke-10000. Dia menjual tangan buatan untuk orang-orang sepertinya. Dan dalam sebuah seminar, dia berucap:

“If you want it, then you can do it. But please remember it won’t works to everyone who read it.”

Keterlibatan Seorang Jurnalis Terhadap Bisnis Mira

Sekarang kita bergeser ke time & space lainnya. Saat seminar berlangsung, tentu saja banyak peserta, panitia, bahkan media yang hadir. Mereka mencatat poin-poin penting dari setiap cerita Everydene. Tujuannya juga bermacam-macam. Mulai dari untuk di-share ke mahasiswa, ditulis ke sebuah buku, ataupun diangkat ke koran. Atau apapun.

 photo d-artderryardo-koran_zps68ipfyhs.jpg

Betul saja. Rupanya banyak pekerja media yang meliput. Dan hanya ada satu Jurnalis yang berhasil menangkap ucapan Everydene dengan jelas. Jurnalis ini akhirnya mengeluarkan tulisan di rubrik opini koran tempat dia bekerja dan mengutip ucapan Everydene secara lengkap tanpa dipotong.

Saat koran ini terbit, ada seorang anak SD super jenius ber-IQ tinggi di atas rata-rata yang memiliki sebuah kekurangan. Tentunya, sebuah kekurangan juga bisa menjadi kelebihan untuk keadaan-keadaan tertentu. Dan hal ini, berdampak untuk Mira di kemudian hari.

Anak Kecil pun Punya Hubungan Sebab Akibat Dengan Mira

Anak SD ini bernama Jeff. Dan kelemahannya, adalah pikun.

 photo d-artderryardo-brain_zpsycycvmds.jpg

Jeff tumbuh besar dan akhirnya bersekolah di MIT. Bukan hanya itu, dia akhirnya menjadi dosen muda dan sering menjadi pembicara untuk berbagai acara. Di sebuah seminar, Jeff berkata seperti ini (translated in to Bahasa Indonesia):

“Gini ya. Jadi saya lupa waktu itu saya baca di mana, pokoknya yang saya inget dan yang mau saya sampaikan adalah ‘if you want it, you can do it’ deh.”

Bahkan Seorang Buzzer Juga Punya Dampak Terhadap Mira

Acara tersebut, momen tersebut, ucapan tersebut, sesegera mungkin tersebar luas karena ada seorang Buzzer bernama Gary (dia sedang bekerja sama dengan sebuah brand yang mensponsori seminar) melakukan Instagram Live. Puluhan ribu viewers yang berisi pengusaha, akun-akun motivasi, orang-orang yang butuh motivasi, menjadi penontonnya.

Keesokan harinya, mulai lah muncul satu persatu postingan quotes bertuliskan “If You Want It, You Can Do It. – Jeff”. Dan kesalahpahaman ini ternyata menjadi kunci kejatuhan dari Mira.

Kembali ke Mira

Setelah tahun ke-4 menjalankan bisnis, Mira justru menjadi orang yang mudah marah. Tidak lagi melakukan bisnisnya karena kecintaannya terhadap kuliner. Obsesinya untuk mengejar profit jauh lebih besar dari revenue yang dia dapatkan. Dia semakin menjadi orang yang penuh obsesi sejak melihat postingan quotes motivasi yang di-like oleh Derry dua tahun lalu. Namun usahanya justru collapse.

 photo d-artderryardo-collapse_zpsdjmiwt5e.jpg

Kejatuhannya ini dimulai waktu Mira menelan mentah-mentah konten yang dia lihat. Itu bukan konten hoax, but yes the quotes she read wasn’t full-sentenced. Mira menelan mentah-mentah informasi, insight, data, yang dia dapat. Seperti yang diceritakan di awal tadi bahwa quotes “If You Want It, You Can Do It” menjadi motor penggerak Mira. Dia menjadi terobsesi dan tidak pernah puas.

Yes, the point is Mira was miss-informed. Quotes yang dia lihat, rupanya tidak cocok.

How come?

Sudah jelas bahwa Everydene mengucapkan “It won’t work to everyone who read it”. Kondisinya pun juga berbeda. Everydene saat itu berhasil menjual machine-hand ke-10000 dari modal yang diinvestasikan oleh Ayahnya, sedangkan Mira sedang ingin mengembangkan usahanya dengan meminjam dana (loan, bukan investasi) dari bank.

The point is not that investment or loan, not that father or bank, not sold the machine-hand or food. What happened was, tidak selamanya quotes sesuai untuk semua orang.

Things doesn’t works for everyone at every time.

The point is, seseorang hanya menyampaikan apa yang dia tau atau yang dia ingin sampaikan.

The point is, jika sebagai pembaca, pengkonsumsi konten, kita, tidak kritis maka kesalahpahaman seperti Mira akan terus terjadi.

So the point of Derry and Ardo’s Discussion is…

Akhirnya mereka sepakat bahwa quotes, saran, informasi, data, insight, perspektif, yang lahir dari pengalaman sang subjek (misalnya Everydene) tidak cocok untuk semua orang. Mungkin cocok untuk Jeff dan mungkin tidak untuk si Jurnalis. Atau bahkan sebaliknya.

Karena setiap orang punya latarbelakang berbeda, pengalaman dan kejadian-kejadian hidup berbeda, pembelajaran berbeda, lingkungan berbeda (bahkan setiap orang di lingkungan tersebut pun punya pembelajarannya sendiri).

So the final point is, does being critical get us away from taking wrong action?

Let's share and let others aware:
No more articles