This fiction story may explain a little bit about things we don’t see everyday in reality.

Banyak orang ngeluh kalau ini negara udah rusak. Udah gabisa dibenerin. Ada yang bilang, Negara ini udah dikuasain sama pemangku jabatan yang siap dibayar oleh yang punya kepentingan lebih besar. Ada yang bilang, harus realistis jadi mending pindah keluar negeri karena bisa hidup lebih layak. Bisa punya keluarga dan bisa membesarkan anak di lingkungan yang lebih baik. Ada juga yang bilang kalau negara ini penuh dengan orang-orang kotor. Masyarakat anarkis, pemerintah tukang bohong, pengusaha tukang sogok, investor tukang eksploitasi, dll.

Muncul pertanyaan tiba-tiba. Kalau kita terlahir di sebuah keluarga yang bermasalah dari berbagai sisi, apa yang bakal kita lakuin sebagai anak? Jawabannya kemungkinan besar adalah “balik lagi ke diri kita masing-masing sih”.

Karena tergantung, berarti jawaban spesifiknya bisa bermacam-macam. Mulai dari “kalau saya sih pengen belajar yang bener biar bisa dapet kerjaan yang layak sehingga bisa bantu selesain masalah-masalah keluarga”, dan sebagainya. Dan mungkin juga “saya sih mending cabut deh setelah lulus kuliah. Pengen idup tenang.” dan sebagainya.

Sekarang coba lebih detail. Misalnya kita lahir di keluarga yang unik. Ayah, suka mabuk dan judi. Ibu, gak perduli sama kehidupan anak-anaknya kecuali belanja dan belanja bahkan masak pun gak bisa. Abang, sering main perempuan walaupun udah nikah, dan masih tinggal di rumah orang tua. Adik, baru kenal namanya narkoba.

Mereka, rasanya kayak yang lupa sama yang namanya keluarga. Kita, justru nyadar bahwa keluarga ini udah…apa ya…mungkin gak sehat. Nah, sebagai anak yang ngerti bahwa kondisi tersebut gak sehat, apa yang bakal kita lakuin? Mungkin balik ke jawaban-jawaban sebelumnya. Ada yang pengen selesain sumber masalah keluarga, ada yang capek dan pengen segera cabut.

It’s more complex than that

Tapi sekarang coba lebih kompleks lagi. Misalnya, kita lahir di keluarga yang sangat besar dan dengan masalah yang besar pula. Misalnya, ayah yang suka mabuk dan judi tadi juga seorang pejabat korupsi yang belum tertangkap KPK, karena ia merupakan petinggi di KPK.

Ibu, selain tidak perduli dengan anak, rajin belanja dan gak bisa masak tadi juga merupakan seorang pengusaha yang mempekerjakan perempuan-perempuan untuk disewakan. Bukan sebagai PSK, tapi sebagai perempuan yang ditugaskan untuk merusak hubungan suami-istri orang lain. Dan klien ibu kebayakan adalah pengusaha-pengusaha dari Amerika Selatan, yang mau merusak kehidupan karyawan-karyawan perusahaan lawan di Indonesia.

Abang, sudah menikah, tidak hanya hobi main perempuan dan masih tinggal di rumah kita, tapi juga mafia yang kerjanya menyelundupkan barang-barang mewah dari luar negeri. Dia juga sering mukulin adik kita. Gak cuman itu, hutang judinya ternyata udah dimana-mana dan gak bisa lunas karena hasil bisnisnya selalu abis buat foya-foya.

Adik kita, ternyata bukan baru kenal narkoba. Tapi baru lulus SMA dan udah beberapa kali masuk rehabilitasi dan penjara karena beberapa kali ketangkep ngeganja dan ngobat.

Apa ya yang kita lakuin? Misalnya kita anak culun yang bahkan, misalnya, kita gak tau apa itu Instagram dan siapa itu Kendall Jenner. Yang jelas, yang kita lihat, yang dicerna oleh otak kita, yang kita rasain, adalah, ini keluarga chaos. Mungkin juga no hope.

Apa yang bakal kita lakuin? Stay dan berusaha ngebuka mata keluarga kita, stay dan berusaha ngerubah keluarga kita secara diem-diem, stay dan berusaha dengan cara-cara yang extreme tanpa peduli mau dibilang apapun, dll, atau malah…cabut?

Lagi-lagi, jawabannya tergantung dari ‘siapa’ diri kita. Apakah kita orang yang sadar dan mau merubah, sadar tapi gak mau merubah, atau lainnya.

What If the Family is way bigger than that?

Dari ilustrasi fiksi tadi, saya pengen ngebayangin “gimana kalau keluarga kita adalah Indonesia”. Kalau emang seperti itu, apa yang bakal kita lakuin ya?

Disini, saya bakal coba untuk ngegambarinnya lewat sebuah cerita yang saya sebut sebagai semi-fiksi. Jalan cerita, karakter, tempat, waktu, dll nya fiktif. Tapi cerita fiktif ini inspired from the real event. Saya coba buat sesimpel mungkin sebetulnya. Dan moga aja emang gak berbelit-belit. Di dalam cerita ini, ada saya dan kamu (yang baca cerita ini). Cerita ini, tanpa percakapan. Murni seperti dibacakan oleh narrator. Ilustrasi ini, saya kasih judul “Derry, The Deadman”.

PAGE 2

Derry, The Deadman

Kita, termasuk saya, adalah orang-orang yang udah capek ngeliat kebobrokan negara ini. Kita capek ngeliat berita di TV yang nayangin informasi-informasi yang sifatnya negatif. Isinya orang-orang jahat, rakus, dll. Kita capek misalnya ngeliat pemerintah kita kalah tegas sama organisasi internasional yang akhirnya ngebuat pemerintah kayak yang “mengalah”.

Anak-anak FISIP dan Hukum jadi kepancing untuk mendebatkan masalah kedaulatan Negara. Kita capek ngeliat berita-berita di social media yang ngeliatin informasi-informasi dari abg-abg konyol. Misalnya nge-fuck-you-in pahatan berbentuk muka Soeharto. Atau misalnya, berita tentang sekelompok pemuda meninggal karena minum miras oplosan saat lebaran. Atau misalnya, ada informasi dan foto tentang bos geng motor di Bandung meninggal ditusuk lehernya sama geng motor lain. Atau misalnya, beredar foto cewek-cewek SMA yang baru lulus dan fotonya tuh dengan pose bokong yang dimontok-montokin. Atau misalnya beredar video cowok-cewek berbaju SMP ciuman di pinggir jalan pas lagi nunggu angkot.

Kita capek. Ibaratnya, serah lo deh mau ngapain. Urusin aja diri sendiri-sendiri. “Run for your life” lah ibaratnya. Dan di cerita ini, bukan kita yang jadi peran utamanya. Disini, kita berperan jadi warga yang capek dan muak.

Di sisi lain, ada seorang mantan Direktur Rumah Sakit di Jawa Tengah dengan visi hidup utama yaitu stand for Indonesians. Bukan secara real membuat Indonesia maju. Dengan visi tersebut, beberapa misinya untuk bisa membela rakyat Indonesia adalah:

  • menjadi Dokter di Forensik supaya bisa tau keadaan asli tentang korban-korban
  • menjadi Gubernur supaya bisa membuat kebijakan yang mendahulukan kepentingan rakyat
  • menulis buku dengan target menginspirasi para siswa tingkat SMA
  • dan menjadi pembicara di berbagai seminar baik kedokteran maupun hukum.

Satu hal yang jadi pertanyaan orang-orang sekitarnya adalah kenapa sampai sekarang berumur 38 tahun, dia belum juga menikah. Ternyata, dalam sebuah seminar, dia cerita bahwa dia paham tentang tekanan seperti apa yang bisa dilakuin oleh pemilik kepentingan baik itu pemerintah, pengusaha, maupun asing, kepada dia dan keluarganya jika dia menikah.

Dia gak asal sebut.

Hal itu dipelajarinya dulu sekali ketika ayahnya, seorang tentara dengan pangkat selangit, sering mengadakan rapat di rumahnya untuk mempertahankan keutuhan keluarganya yang diserang bertubi-tubi oleh media nasional demi menyelamatkan ‘wajah’ salah seorang petinggi yang lebih tinggi lagi pangkatnya. Kasarnya, ayahnya harus pasang badan untuk jadi kambing hitam.

Mantan Direktur Rumah Sakit ini namanya Derry, dan dulu dia sering ngeluh kalau lagi ngeliat penyakit ayahnya kambuh yang dipicu oleh stress. Dia ngeluh kurang lebih kayak gini: “Gila ya, papah ngebelain mereka tapi malah diginiin.” Ibunya, karena gak mau salah ngomong, cuman bilang: “Der, sabar ya. Pelan-pelan, kamu bakal ngeliat banyak hal. Lebih besar, lebih kecil, lebih ringan, ataupun lebih berat dari ini. Ketika kamu ketemu dengan hal-hal tadi, lakuin sesuatu. Seengganya, bantuin keluarga-keluarga yang seperti kita.”

Akhirnya, Derry tumbuh dengan kepercayaan bahwa banyak hal-hal yang gak keliatan oleh kebanyakan orang. Intinya, di cerita ini, dari sisi makhluk politik, Derry adalah seseorang yang cuman punya satu kepentingan. Yaitu Indonesia terbebas dari orang-orang yang bertujuan merugikan Indonesia. Hal ini berangkat dari beberapa poin yang menemani masa pertumbuhannya tadi.

Terus, Derry mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur di Jawa Tengah secara independent. Mungkin karena kharismanya, cara dia dalam bersikap, visi, misi, program kerja yang jelas, dan lain hal, akhirnya dia terpilih beserta wakilnya. Dia yakin bahwa dengan kemampuannya dan segala yang dimiliki, dia bisa sedikit-sedikit mengubah keadaan di Jawa Tengah yang diharapkan berdampak sedikit banyak ke wilayah-wilayah lain.

Tapi Derry justru dipenjara.

Gini ceritanya. Awalnya, ada pengusaha dari Singapura yang mau buka lahan untuk pabrik di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Setelah melalui prosedur-prosedurnya, akhirnya kedua belah pihak sepakat deh. Tapi malam sebelum hari penandatanganan, secara gak sengaja, Derry mergokin salah satu ajudannya lagi berbuat cabul dengan perempuan berumur sekitar 18an yang gak dikenal di rumah dinas. Derry langsung menindak ajudannya untuk segera berhenti dan dicarikan pekerjaan lain.

Besok paginya, dia menunda jadwal rapat penandatanganan karena dia, entah gimana ceritanya, jadi ragu untuk tanda tangan. Dia perlu waktu satu minggu katanya. Dalam waktu satu minggu itu, Derry secara pribadi menginisasi sebuah riset rahasia. Bukan riset akademis tentang perjanjian dengan pengusaha Singapura, tapi riset tentang background dari pengusaha tersebut.

Dan hasilnya, mengarah kepada perempuan yang nggak dikenal tadi. Ternyata, ABG itu adalah semacam hadiah dari pengusaha tersebut sebagai bayaran kepada ajudannya yang sudah memberikan beberapa informasi pribadi Derry, yaitu: Derry belum menikah karena menghindari tekanan terhadapnya melalui orang-orang yang dia sayangi. Menurut Derry, itu berbahaya untuk kebijakan-kebijakan yang bakal dia buat.

Gak hanya itu, Derry dan tim kecilnya menemukan bahwa pengusaha tersebut juga pernah ngelibatin beberapa pejabat di pusat. Intinya, terdapat beberapa lahan pertanian di Jawa Timur yang digusur untuk membangun sebuah pabrik rokok. Dan ditemukan satu kesimpulan baru bahwa terdapat beberapa staffnya yang udah nerima berbagai bentuk hadiah. Sehingga dasar-dasar yang menjadi bahan pertimbangan atas kesepakatan di awal tadi, merupakan dasar-dasar yang tidak sesuai prosedur. Kesepakatan awal tadi sudah corrupt.

Belum seminggu, Derry langsung ngebatalin kesepakatan pemerintah provinsinya dengan pengusaha Singapura tersebut. Dan secara otomatis, si pengusaha berasumsi bahwa Derry telah mengetahui sesuatu. Si pengusaha, melalui tim legal-nya, segera nyari celah supaya bisa menutup informasi yang dimiliki Derry.

Tentunya si pengusaha ketar-ketir , karena perusahannya adalah anak perusahaan dari sebuah holding company di U.S., yang mana punya power lebih besar lagi. Begitu juga dengan pejabat-pejabat pusat yang mendengar kabar tersebut. Mereka takut dengan hasil risetnya Derry beserta tim kecilnya.

Akhirnya, dibentuklah tim di perusahaan Singapura yang berisi beberapa orang Legal dan Marketing. Tim tersebut bertugas untuk menerapkan strategi media buying seperti ketika menjalankan sebuah campaign. Setelah dasar, goal, list media, dan beberapa poin lain ditetapkan dengan jelas, maka dimulailah ‘campaign’ tersebut. Yaitu untuk menjatuhkan Derry.

Awalnya, perusahaan ingin menjatuhkan Derry melalui keluarganya. Tapi kan dia gak menikah. Jadi gak bisa diserang. Sebelumnya juga mau bikin cerita tentang LGBT, tapi gak jadi. Gak tau kenapa. Akhirnya, mereka nyoba lewat celah ajudan yang diberhentikan tadi.

Pihak pengusaha diuntungkan karena ajudan tersebut yakin bahwa tidak ada saksi atas pemecatannya. Sehingga dibentuk sebuah scenario seperti ini:

“Ajudan mengajukan gugatan karena Derry telah melakukan tindakan tidak menyenangkan, memecat dengan tidak berasalan, tidak sopan, dll, dan menyebabkan keluarga dari ajudan tersebut tidak dapat hidup dengan layak. Kedua anaknya berhenti dari sekolah karena ketahuan bahwa ayahnya hanya seorang ajudan, dan juga karena tidak sanggup membiayai sekolah anak-anaknya. Istrinya kabur tanpa informasi apapun setelah dia dipecat oleh Derry.”

Beberapa jam setelah gugatan diajukan, “Ajudan VS Gubernur” menjadi headline dimana-mana. Hashtag-hashtag bermunculan setelah masyarakat membaca, menonton, mendengar cerita tentang bagaimana nasib kedua anaknya. Berbagai macam meme menjadi viral di internet.

Termasuk kita, sebagai warga yang capek dan muak, secara nggak langsung ikut memberikan dukungan kepada Ajudan tersebut karena yang kita tau adalah apa yang media berikan. Peredaran informasi ini bahkan terbukti jadi makin gak kebendung pas kita liat timeline Path. Meme-nya udah banyak banget.

Dua dari temen kita masing-masing pada nge-repath dengan caption “bener2 ya pemerintah tuh!!” “Gubernur tolol!” Atau seengganya, ikut ngakak, moyok si Derry. Berbagai macam gerakan masyarakat muncul untuk mendukung Ajudan dan anak-anaknya. Bahkan, terdapat tuntutan beberapa masyarakat kepada pengadilan untuk menangkap Derry melalui platform petisi online seperti Cha*ge.org atau yang lainnya.

Derry, the deadman, mulai menarik napas dalam-dalam ketika menyadari bahwa keadaannya saat ini, tidak berbeda jauh dengan ayahnya. Napasnya ditarik bahkan lebih dalam lagi ketika teringat bahwa tidak ada saksi saat pemecatan. Hanya ada staff yang mencatat tentang pemberhentian tersebut. Itupun karena Derry yang memintanya untuk menulis.

Beberapa minggu setelah sidang yang melelahkan, Derry dihukum 3 tahun penjara dan denda sebesar Rp 250.000.000,-. Dan Derry, segera masuk penjara malam itu juga.

Begitulah sedikit cerita dari pengalaman Derry.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan Derry sebagai pribadi yang visi hidupnya stand for Indonesians, tetapi justru malah dimatikan oleh warganya sendiri? Tapi mungkin bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya mungkin juga adalah, kalau kita sudah berusaha membantu orang lain, tapi orang lain tersebut malah menusuk kita, apa yang akan kita lakukan? mungkin jawabannya “balik lagi ke diri masing-masing sih”.

Pertanyaan berikutnya. Apakah Derry, bakal ngerasa capek/ dihianatin/ gak dihargain? Apakah Derry masih perduli sama rakyat di Jawa Tengah, bahkan Jawa Timur atau wilayah lain?

Derry, Is Not A Deadman

Awalnya, dia enek. Muak. Capek. Tapi setelah keluar dari penjara, Derry ternyata balik lagi ke pemerintah provinsi walaupun nggak sebagai Gubernur. Tapi sebagai staff. Mungkin tujuan dia balik kesana adalah untuk perbaiki nama baik, untuk terus berada di pemerintahan, dan mungkin juga supaya bisa tetap bantu masyarakat disana.

Walaupun notabene-nya masyarakat Jawa Tengah gak tau apa yang udah mereka lakuin ke Derry, tapi karena dukungan istri dan anaknya, Derry is not a deadman. Derry bangkit untuk kejar visinya. Melalui pemerintahan.

Ya, ternyata Derry punya istri dan tiga anak yang berpencar di berbagai kota di Indonesia. Dan tetap dirahasiakan hingga sekarang karena Derry masih berada di bawah perhatian orang-orang yang rahasianya diketahui oleh Derry. Bahkan, anaknya pun ternyata sudah semakin muak dengan ayahnya yang masih aja mau membela masyarakat. Tapi pelan-pelan, keluarganya mulai bisa kumpul lagi.

Cerita ini mungkin terlalu politik, hukum, nan sosial yang jadi topik membosankan buat sebagian orang. Tapi, ya begitulah yang ada di sudut perspektif saya.

 

This story first published at qvsp.co

Let's share and let others aware:
  • 2
    Shares
No more articles